Juni 5, 2026
75af34df-4ad5-4bff-8c84-5eb71981f83a

SURABAYA, 29/01/2026 – Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) yang tergabung dalam Kelompok Manyar Sabrangan 3 pada program Belajar Bersama Komunitas (BBK), kembali menunjukkan aksi nyata dalam pemberdayaan masyarakat di Manyar Sabrangan, RW 01, Surabaya. Di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Prof. Dr. Esti Yunitasari, S.Kp., M.Kes., fokus mereka kali ini menyasar sektor ekonomi melalui pendampingan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan pendekatan yang terpersonalisasi.

Muhammad Yusran Yuris, selaku Penanggung Jawab (PJ) Bidang Ekonomi tim BBK, menjelaskan bahwa awalnya tim memiliki target agar seluruh UMKM di wilayah tersebut terdigitalisasi melalui penggunaan QRIS. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak pelaku usaha di Manyar Sabrangan ternyata sudah cukup maju, memiliki izin usaha, sertifikat halal, hingga sistem pembayaran digital.

“Pas survei lapangan, ternyata warga sudah maju. Izin ada, sertifikat halal ada. Jadi kami ubah strateginya. Kami tidak pukul rata semua harus QRIS, tapi kami cari apa yang mereka butuhkan. Kalau butuh spanduk, kami buatkan. Kalau butuh pasar lebih luas, kami buatkan media sosial,” jelas Yusran, mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi UNAIR tersebut.
Dongkrak Potensi Lokal Lewat Media Sosial
Salah satu contoh keberhasilan strategi ini diterapkan pada sebuah toko tembakau lokal. Toko tersebut dinilai memiliki produk yang lengkap dan estetik, namun kurang terekspos. Tim mahasiswa kemudian membantu pembuatan konten media sosial seperti TikTok dan Instagram agar toko tersebut bisa viral dan menjangkau pasar yang lebih luas.

Selain media sosial, mahasiswa juga membantu pendaftaran pedagang ke platform pesan antar makanan (ShopeeFood) dan pembuatan katalog digital bagi mereka yang membutuhkannya.

Sinergi Tim Lintas Fakultas
Keberhasilan pemetaan masalah ekonomi ini merupakan hasil kerja sama solid seluruh anggota kelompok yang diketuai oleh Didan Wibisono (Fakultas Hukum). Dukungan analisis dan eksekusi program diperkuat oleh rekan-rekan dari Fakultas Ekonomi Bisnis, Nadia dan Mochammad Ulin Nuha Annadhif, serta Angelyn Putri (Kedokteran Gigi) yang turut membantu sosialisasi.

Tim juga didukung oleh Chrisanty Puspa Arum Manukily (FISIP), Chesica Styo Helena (Ilmu Budaya), dan Fathia Feriztha Saifuddin (Teknologi Maju dan Multidisiplin) yang memastikan program berjalan lancar dan terkomunikasikan dengan baik kepada warga.

Tantangan Edukasi Digital
Meski banyak yang sudah maju, Ketua PKK RW 01 Manyar Sabrangan, Retno, mengakui masih ada kendala psikologis pada sebagian pedagang kecil terkait teknologi finansial. Beberapa pedagang menolak penggunaan QRIS karena kekhawatiran uang hasil penjualan tidak bisa langsung dipegang atau sulit dicairkan.
“Ada yang merasa, ‘Wah uang segini nanti malah tidak bisa diambil’. Padahal QRIS itu memudahkan. Di sini peran teman-teman mahasiswa sangat membantu untuk memberikan pemahaman sekaligus solusi alternatif bagi mereka,” ujar Retno.

Pentingnya Kemasan Produk
Dalam kunjungan monitoring tersebut, perwakilan DPD PUSKOMINFO Jawa Timur turut memberikan masukan strategis. Selain digitalisasi pembayaran, aspek packaging (kemasan) dinilai krusial. Kemasan yang menarik (eye-catching) seringkali menjadi penentu keputusan pembeli di era digital, bahkan sebelum mereka mencicipi rasa produknya.

Kolaborasi antara mahasiswa UNAIR Kelompok Manyar Sabrangan 3 dan warga ini diharapkan tidak hanya berhenti pada administrasi, namun mampu meningkatkan omzet pelaku usaha lokal melalui strategi pemasaran modern yang tepat sasaran.

—VI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *