SURABAYA, 29/01/2026 – Kesadaran akan pentingnya membangun fondasi karakter sejak usia dini mendorong mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) untuk melakukan aksi nyata. Tergabung dalam Kelompok Manyar Sabrangan 3 pada program Belajar Bersama Komunitas (BBK), para mahasiswa ini terjun langsung ke Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di wilayah Manyar Sabrangan, RW 01, Surabaya.
Di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Prof. Dr. Esti Yunitasari, S.Kp., M.Kes., kelompok ini tidak hanya hadir untuk bermain, melainkan membawa misi edukasi krusial yang sering kali terlupakan, yakni pendidikan seksual dan pencegahan perundungan (anti-bullying).

Pendidikan sebagai Fondasi Masa Depan
Perwakilan tim menegaskan bahwa motivasi utama mereka menyasar anak usia dini adalah keyakinan bahwa pendidikan karakter harus dimulai saat “usia emas” (golden age).
“Kami meyakini bahwa pendidikan adalah fondasi utama untuk membangun masa depan generasi penerus Indonesia. Kami harus menanamkan nilai-nilai positif dan kebiasaan baik ke dalam pemikiran mereka sejak dini agar tertanam kuat hingga dewasa,” ujar perwakilan mahasiswa di sela-sela kegiatan.
Empat Pilar Edukasi: Dari Kesehatan hingga Perlindungan Diri
Guna memastikan materi dapat diterima dengan baik oleh anak-anak, Didan Wibisono (Fakultas Hukum) selaku Ketua Kelompok bersama timnya mengemas program ke dalam empat pilar materi interaktif:

1. Kesehatan Gigi dan Mulut:
Memanfaatkan keahlian akademisnya, Angelyn Putri dari Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) memimpin sesi demonstrasi cara menyikat gigi yang benar (how to brush teeth properly). Menggunakan alat peraga manekin gigi (dental phantom), anak-anak diajak mempraktikkan langsung cara menjaga kebersihan mulut.
2. Cinta Lingkungan:
Tim menanamkan disiplin sejak dini melalui kebiasaan membuang sampah pada tempatnya. Anak-anak diajarkan untuk mencintai lingkungan sekolah dan rumah agar tetap bersih dan sehat.
3. Edukasi Seksual (Good Touch, Bad Touch):
Materi sensitif namun vital ini disampaikan dengan pendekatan yang ramah anak oleh Chesica Styo Helena (Fakultas Ilmu Budaya). Chesica mengenalkan bagian tubuh mana yang boleh dilihat orang lain dan mana yang merupakan area privasi (sensitive parts). Edukasi ini bertujuan agar anak mampu melindungi diri dari risiko pelecehan seksual dan berani melapor jika terjadi hal yang tidak diinginkan.
4. Anti-Bullying dan Toleransi:
Untuk membangun kecerdasan sosial, mahasiswa menanamkan nilai persahabatan dan keberagaman. Anak-anak diajarkan konsep anti-bullying, yakni bagaimana berteman tanpa menyakiti perasaan orang lain, baik secara fisik maupun verbal.
Sinergi Mahasiswa Lintas Disiplin Ilmu
Keberhasilan penyampaian materi yang beragam ini tidak lepas dari kolaborasi solid anggota kelompok yang berasal dari berbagai latar belakang keilmuan. Selain Didan, Angelyn, dan Chesica, tim ini diperkuat oleh Nadia (Fakultas Ekonomi Bisnis) sebagai Sekretaris, serta Mochammad Ulin Nuha Annadhif (Fakultas Ekonomi Bisnis) dan Fathia Feriztha Saifuddin (Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin) yang memastikan dokumentasi dan komunikasi publik berjalan lancar.
Sementara itu, Chrisanty Puspa Arum Manukily (FISIP) dan Muhammad Yusran Yuris (Fakultas Sains dan Teknologi) berperan aktif dalam merancang alur acara agar tetap menyenangkan dan tidak membosankan bagi anak-anak PAUD.
Harapan Jangka Panjang untuk Generasi Penerus
Program kerja ini mendapatkan apresiasi positif dari berbagai pihak karena dinilai sangat relevan dengan tantangan zaman. Pewawancara di lokasi bahkan menyebut kegiatan ini sebagai investasi tak ternilai bagi masa depan anak-anak Manyar Sabrangan.
Sebagai penutup, kegiatan ini diharapkan tidak sekadar menjadi seremonial KKN semata, melainkan mampu meninggalkan jejak perubahan perilaku yang berkelanjutan. Dengan bekal pemahaman tentang kesehatan diri, perlindungan dari kejahatan seksual, serta etika pergaulan yang anti-kekerasan, anak-anak di Manyar Sabrangan diharapkan tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara mental dan memiliki karakter sosial yang mulia. Semangat yang dibawa oleh mahasiswa BBK UNAIR ini menjadi bukti bahwa perubahan besar bangsa ini memang harus dimulai dari ruang-ruang kelas kecil di tingkat usia dini.
—VI
