Juni 5, 2026
FullSizeRender

SURABAYA, 29/01/2026 – Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) yang tergabung dalam Kelompok Manyar Sabrangan 3 pada program Belajar Bersama Komunitas (BBK) melakukan terobosan inspiratif dalam penanganan stunting di wilayah Manyar Sabrangan, RW 01, Surabaya. Di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Prof. Dr. Esti Yunitasari, S.Kp., M.Kes., para mahasiswa ini memilih jalur pendampingan psikologis untuk mengubah pola asuh orang tua, melengkapi pendekatan medis yang sudah ada.

Ketua Kelompok Manyar Sabrangan 3, Didan Wibisono, menjelaskan bahwa program ini lahir dari temuan lapangan. Meskipun fasilitas kesehatan di wilayah tersebut sudah memadai, masih ditemukan kasus stunting pada anak usia PAUD. Setelah ditelusuri, akar masalahnya bukan pada ketersediaan fasilitas, melainkan pola asuh orang tua.

“Kami melihat dari fasilitas kesehatan sebetulnya sudah memadai. Namun, pola asuh orang tua perlu dibenahi. Oleh karena itu, kami berinisiatif mendatangkan psikolog, Ibu Valina Khiarin Nisa, S.Psi., M.Sc., untuk memberikan pendampingan khusus kepada ibu dari anak yang terdampak,” ujar Didan, mahasiswa Fakultas Hukum, saat menerima kunjungan monitoring dari DPD PUSKOMINFO Provinsi Jawa Timur.

Membuka “Pintu” yang Sempat Tertutup
Inisiatif mahasiswa lintas fakultas ini mendapat apresiasi tinggi dari perangkat desa setempat. Ketua PKK RW 01 Manyar Sabrangan, Retno, mengungkapkan bahwa kehadiran mahasiswa BBK berhasil menjadi “pintu masuk” bagi warga yang sebelumnya sulit diedukasi.

“Saya menyambut sangat baik. Awalnya pendekatan ke warga yang terdampak stunting ini sempat macet. Namun, dengan pendekatan personal dari teman-teman mahasiswa yang mendatangkan Ibu Valina selaku psikolog, alhamdulillah ibunya bisa terbuka kembali,” ungkap Retno.

Ia menambahkan bahwa intervensi ini membawa perubahan nyata. Orang tua yang bersangkutan mulai menyadari kesalahan pola asuh terdahulu dan kini lebih termotivasi untuk memperbaikinya demi tumbuh kembang anak.

Keberhasilan program ini tak lepas dari kerja sama solid tim yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu. Selain Didan (Hukum), tim ini diperkuat oleh Angelyn Putri (Kedokteran Gigi), Nadia dan Mochammad Ulin Nuha Annadhif (Ekonomi Bisnis), Chrisanty Puspa Arum (FISIP), Muhammad Yusran Yuris (Sains dan Teknologi), Chesica Styo Helena (Ilmu Budaya), serta Fathia Feriztha Saifuddin (Teknologi Maju dan Multidisiplin).

Didan mengakui bahwa terjun langsung ke masyarakat memberikan perspektif baru yang tidak didapatkan di bangku kuliah.

“Meskipun saya dari Hukum dan stunting lebih linier dengan teman-teman di bidang kesehatan seperti Kedokteran Gigi, pengalaman bertemu langsung dengan warga dan membantu menyelesaikan masalah di tingkat grassroot adalah pengalaman sekali seumur hidup yang luar biasa,” tambahnya.

Anggota tim lainnya dari Fakultas Ekonomi dan Kedokteran Gigi juga sepakat bahwa masalah stunting adalah mata rantai yang saling berkaitan, mulai dari kesehatan, ekonomi keluarga, hingga edukasi mental. Dukungan penuh dari Prof. Dr. Esti Yunitasari selaku DPL juga menjadi kunci suksesnya implementasi program kerja yang humanis ini.

Program yang telah berjalan hampir satu bulan ini membuktikan bahwa kolaborasi antara akademisi, ahli psikologi, dan masyarakat mampu menjadi solusi efektif dalam pengentasan masalah kesehatan masyarakat secara menyeluruh.

—VI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *