MALANG – Kemajuan pesat teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membawa ancaman baru di ruang digital, mulai dari manipulasi visual (deepfake) hingga maraknya penipuan siber bermodus pengiriman dokumen aplikasi (APK). Merespons kerentanan tersebut, Kelompok 19 Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya (UB) menggelar program “Digital Defense Workshop” bagi ibu-ibu PKK RT 07 RW 01 Desa Klampok, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, pada Minggu (19/07/2026).

Program inovatif ini diinisiasi oleh Fajar Okta Ramadan, mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) UB. Tingginya intensitas penggunaan aplikasi pesan instan seperti WhatsApp di kalangan warga perdesaan sering kali tidak diimbangi dengan kemampuan literasi digital yang memadai. Warga menjadi target empuk sasaran penyebaran hoaks provokatif serta modus penipuan berkedok undangan pernikahan digital yang dapat menguras saldo finansial.
Guna menghindari kesan kaku pada penyuluhan konvensional, lokakarya ini dikemas secara interaktif menggunakan strategi plot twist kognitif. Di awal kegiatan, warga diperlihatkan tayangan video tokoh publik yang tampak sangat nyata, sebelum akhirnya diungkap kebenarannya bahwa tayangan tersebut murni hasil rekayasa mesin komputer (AI). Kejutan ini terbukti ampuh meruntuhkan ilusi keamanan audiens dan secara instan memantik kewaspadaan mereka terhadap informasi visual di layar gawai.

Selama lokakarya berlangsung, peserta dibekali media edukasi fisik berupa brosur panduan taktis “3 Detik Cek Fakta”. Melalui panduan tersebut, warga diajak membedah anomali pada video deepfake—seperti kedipan mata yang tidak wajar atau gerak bibir yang kaku. Selain itu, ditekankan pula protokol keamanan mutlak untuk tidak mengklik tautan biru sembarangan dan segera memblokir nomor asing yang mengirimkan file dokumen mencurigakan.
Menariknya, evaluasi ketercapaian program tidak menggunakan lembar ujian tertulis (pre-test/post-test) konvensional yang kerap mengintimidasi warga lansia. Fajar menerapkan metode Hidden Assessment, di mana pengujian serapan materi disamarkan secara apik ke dalam bentuk permainan kuis lisan berhadiah (doorprize).
Antusiasme dan respons masyarakat terbukti sangat luar biasa. Tercatat sebanyak 31 peserta aktif hadir memadati Balai Desa Klampok, jauh melampaui target awal yang diperkirakan hanya 25 orang. Peserta kuis dengan tangkas dan tepat mampu menganalisis studi kasus penipuan digital yang dilontarkan.
Kegiatan pengabdian yang berada di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Rizky Fadilla Agustin Rangkuti, S.Pi., M.Si., ini diakhiri dengan sebuah deklarasi komitmen bersama. Seluruh peserta secara serempak dan penuh semangat menyuarakan jargon etika digital, “Saring Sebelum Sharing!”. Hal ini menandai suksesnya transformasi kognitif warga Desa Klampok menjadi agen literasi akar rumput yang kritis, tangguh, dan melek teknologi.
