Desa Klampok, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, memiliki potensi pertanian yang besar dengan hamparan lahan yang luas di kawasan dataran tinggi. Sebagian besar masyarakat menggantungkan mata pencahariannya pada sektor pertanian, mulai dari budi daya tanaman pangan, hortikultura, hingga perkebunan skala rumah tangga. Namun, tingginya ketergantungan terhadap pupuk komersial masih menjadi tantangan yang dihadapi para petani karena berdampak pada meningkatnya biaya produksi.
Melihat kondisi tersebut, sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam program Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Kelompok 19 menghadirkan solusi inovatif berwawasan lingkungan melalui program bertajuk BONTANI (Bone for Tani) pada Rabu (15/7/2026). Program ini berfokus pada edukasi dan demonstrasi pemanfaatan limbah tulang ayam dari usaha pemotongan hewan lokal untuk diolah menjadi pupuk organik.
Selama ini, limbah tulang ayam di Desa Klampok tergolong cukup melimpah akibat aktifnya usaha pemotongan ayam setempat. Sayangnya, limbah ini belum dimanfaatkan secara optimal dan kerap dibuang begitu saja hingga berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan. Padahal, tulang ayam mengandung unsur hara penting seperti fosfor (P) dan kalsium (Ca) yang sangat dibutuhkan untuk merangsang pertumbuhan akar dan pembungaan tanaman.
Kegiatan BONTANI yang berlangsung di salah satu rumah warga di wilayah RW 05 Desa Klampok ini menyasar masyarakat RW 05. Rangkaian acara dikemas secara interaktif melalui beberapa tahapan, mulai dari pemaparan materi mengenai kandungan serta manfaat tulang ayam, penjelasan rinci alur pembuatan pupuk tulang, hingga sesi demonstrasi langsung. Dalam sesi demonstrasi tersebut, para peserta diajak secara langsung mengolah tulang ayam agar nantinya siap dimanfaatkan sebagai bahan dasar pupuk tulang organik skala rumah tangga.
Inovasi sederhana ini menjadi langkah nyata mahasiswa MMD dalam mendukung capaian SDGs Desa, khususnya SDGs Desa 12 (Konsumsi dan Produksi Desa yang Bertanggung Jawab) melalui pengelolaan dan daur ulang limbah organik pemotongan ayam agar tidak menjadi pencemar lingkungan. Selain itu, penggunaan pupuk organik dari tulang ayam ini juga berkontribusi pada SDGs Desa 15 (Ekosistem Daratan Desa) dengan membantu menjaga kesuburan tanah alami serta mengurangi efek jangka panjang penggunaan bahan kimia berlebih pada lahan pertanian.
Koordinator Program BONTANI, Adyaksa Prabawa Ivan Al Faruq dari Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan menyampaikan bahwa pelibatan masyarakat RW 05 merupakan langkah strategis dalam mengedukasi pemanfaatan limbah dari tingkat keluarga.
“Kami melihat potensi limbah tulang ayam di Desa Klampok sangat besar namun terbuang sia-sia. Melalui kegiatan BONTANI ini, kami berupaya mengedukasi masyarakat RW 05 mulai dari teori hingga demonstrasi mengolah tulang secara langsung. Harapannya, selain mendukung pencapaian SDGs Desa dalam hal kelestarian lingkungan dan produksi yang bertanggung jawab, keterampilan ini juga dapat diterapkan mandiri untuk mengurangi masalah ketergantungan pupuk komersial,” ujar Adyaksa Prabawa Ivan Al Faruq.
Keberhasilan program ini serta tingginya antusiasme masyarakat juga mendapatkan apresiasi mendalam dari Dosen Pembimbing Lapang Mahasiswa Membangun Desa, Rizky Fadillla Agustin Rangkuti, S.Pi., M.si., dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Beliau menyampaikan rasa bangga atas kepedulian dan kepekaan mahasiswa dalam menghadirkan solusi konkret yang tidak hanya mengatasi persoalan limbah, tetapi juga secara langsung mendukung penguatan sektor pertanian warga Desa Klampok.
