Agustus 5, 2026
5910fa45-b8b8-4271-a8b7-8235ad947a44

MALANG – Program kerja pengelolaan sampah organik berbasis maggot dilaksanakan pada Minggu (2/8/2026) di Kelurahan Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Program ini menjadi salah satu bentuk pengabdian mahasiswa selama pelaksanaan MMD Universitas Brawijaya Kelompok 21 yang berlangsung pada 6 Juli hingga 6 Agustus 2026, sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-9, yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur serta poin ke-12, yaitu Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.

Program pengelolaan sampah organik berbasis maggot hadir sebagai upaya meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola sampah organik menjadi produk yang bernilai guna sekaligus ramah lingkungan. Berdasarkan hasil observasi dan diskusi bersama pemerintah Kelurahan Candirenggo, mahasiswa Kelompok 21 MMD Universitas Brawijaya menemukan bahwa potensi pemanfaatan sampah organik melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) masih belum dimanfaatkan secara optimal. Berangkat dari informasi tersebut, Kelompok 21 menghadirkan empat subprogram, yaitu GERMASA (Gerakan Bersama Masyarakat Candirenggo Kelola Sampah Organik dengan Maggot), Pengolahan Frass Maggot menjadi Pupuk Organik, serta MAGGUARD (Maggot Guardian System) yang terdiri atas pengembangan perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software). Keempat subprogram tersebut dirancang untuk membangun sistem pengelolaan sampah organik yang berkelanjutan melalui pemberdayaan masyarakat, pemanfaatan hasil budidaya maggot, serta penerapan teknologi tepat guna.

Subprogram GERMASA dikoordinasikan oleh Ais Rosyidatul Muna dengan tujuan meningkatkan kesadaran dan keterampilan masyarakat dalam mengelola sampah organik melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF). Kegiatan diawali dengan sosialisasi mengenai konsep ekonomi sirkular, dilanjutkan dengan edukasi, pelatihan, praktik budidaya, hingga pendampingan kepada masyarakat. Melalui program ini, masyarakat diperkenalkan pada pemanfaatan sampah organik sebagai media pakan maggot yang selanjutnya dapat menghasilkan maggot sebagai pakan alternatif ternak serta kasgot yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Program GERMASA diharapkan mampu mengurangi volume sampah organik sekaligus menciptakan manfaat ekonomi dan lingkungan secara berkelanjutan bagi masyarakat Kelurahan Candirenggo.

Sementara itu, subprogram Pengolahan Frass Maggot menjadi Pupuk Organik dikoordinasikan oleh Ayuza Dzikria Ramadhani dengan fokus pada pemanfaatan residu hasil biokonversi maggot menjadi pupuk organik yang bernilai guna. Pada kegiatan ini, frass atau kotoran maggot dipisahkan dari sisa pakan menggunakan sistem penyaringan hingga menghasilkan tekstur yang lebih halus, kemudian dikeringkan untuk mengurangi kadar air, menghentikan proses fermentasi, serta meminimalkan bau. Hasil akhirnya berupa pupuk organik yang kaya unsur hara dan siap dimanfaatkan untuk menyuburkan berbagai tanaman masyarakat. Melalui subprogram ini, seluruh hasil budidaya maggot dapat dimanfaatkan secara optimal sehingga mendukung penerapan konsep zero waste dalam pengelolaan sampah organik.

Subprogram MAGGUARD (Maggot Guardian System) pada aspek hardware dikoordinasikan oleh Friendly Situmorang dengan mengembangkan sistem monitoring suhu kandang maggot berbasis mikrokontroler ESP32. Sistem ini memanfaatkan sensor DHT22, modul relay, lampu pemanas, LED indikator, dan buzzer untuk menjaga suhu kandang tetap berada pada kisaran ideal, yaitu 28–35 derajat Celsius. Melalui mekanisme pengendalian suhu secara otomatis, MAGGUARD mampu membantu menjaga kondisi kandang agar tetap optimal sehingga risiko kegagalan budidaya akibat perubahan suhu dapat diminimalkan.

Pada sisi software, subprogram MAGGUARD dikoordinasikan oleh Farrelino Azikra melalui pengembangan sistem monitoring berbasis Internet of Things (IoT) yang terintegrasi dengan platform Blynk. Sistem ini memungkinkan suhu dan kelembapan kandang maggot dipantau secara real-time melalui smartphone. Data yang dibaca oleh sensor DHT22 diproses oleh ESP32, kemudian dikirim ke Blynk Cloud untuk ditampilkan pada aplikasi pengguna sekaligus mengendalikan lampu pemanas secara otomatis sesuai kondisi suhu kandang. Penerapan teknologi ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas pemantauan budidaya maggot sekaligus memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam mengelola kandang secara lebih modern.

Kegiatan berlangsung dengan antusiasme tinggi karena masyarakat tidak hanya memperoleh materi mengenai budidaya maggot, tetapi juga terlibat secara langsung dalam praktik pengelolaan sampah organik dan pengenalan teknologi yang diterapkan. Melalui pendekatan edukatif dan aplikatif, mahasiswa memberikan pendampingan agar pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh masyarakat. “Melalui program ini, kami ingin menunjukkan bahwa sampah organik memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk yang bermanfaat melalui budidaya maggot. Dengan dukungan inovasi MAGGUARD, kami berharap masyarakat dapat mengelola budidaya maggot secara lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan,” ujar Ais Rosyidatul Muna.

Melalui program pengelolaan sampah organik berbasis maggot, Kelompok 21 MMD Universitas Brawijaya berharap masyarakat Kelurahan Candirenggo dapat terus mengembangkan budidaya maggot sebagai solusi pengurangan sampah organik sekaligus meningkatkan nilai tambah dari hasil budidayanya. Dengan adanya GERMASA, pengolahan frass menjadi pupuk organik, serta inovasi MAGGUARD, diharapkan tercipta sistem pengelolaan sampah organik yang lebih berkelanjutan, inovatif, dan memberikan manfaat bagi masyarakat maupun lingkungan



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *