- Lebih dari 3.800 tersangka ditangkap dari sekitar 3.000-an kasus selama semester pertama 2025
Sidoarjo, cakrawalatvnews57.com – Yayasan Pondok Pesantren (YPP) Al Kholiqi Rehabilitasi Pecandu Narkoba menyoroti lonjakan kasus narkoba di Jawa Timur sebagai bukti rapuhnya ketahanan sosial dan minimnya keterlibatan komprehensif dalam upaya pencegahan.
Dalam enam bulan terakhir, yayasan ini mencatat peningkatan hampir 100 persen jumlah pecandu dan pengguna yang mereka tangani dibandingkan periode sebelumnya.
“Ini bukan lagi soal hukum semata, tapi sudah menjadi krisis sosial. Kami di lapangan menyaksikan langsung dampaknya, dan merasa upaya preventif selama ini belum menyentuh akar,” ujar Direktur Yayasan Al Kholiqi, Sayyid Abdullah SH, Senin (14/07/2025).
Ia menekankan pentingnya pelibatan lembaga rehabilitasi sejak tahap sosialisasi, terutama di lingkungan remaja dan pemuda.
Menurutnya, selama ini rehabilitasi hanya dijadikan solusi akhir ketika pecandu sudah terjerumus jauh.
“Kami berharap diberi ruang lebih besar untuk terlibat dalam antisipasi dini, termasuk edukasi di sekolah-sekolah, pesantren, dan komunitas. Jangan sampai kami hanya datang saat semua sudah terlambat,” tegasnya.
Lonjakan kasus narkoba di Jawa Timur sendiri tergolong mengkhawatirkan. Lebih dari 3.800 tersangka ditangkap dari sekitar 3.000-an kasus selama semester pertama 2025. Fenomena ini menunjukkan masifnya peredaran narkoba oleh jaringan lokal dan internasional yang menjadikan Jawa Timur sebagai pasar potensial.
Tak hanya menyentuh sisi pencegahan, Yayasan Al Kholiqi juga menyoroti pentingnya program pasca-rehabilitasi bagi para eks pecandu. Menurut Sayyid Abdullah, pendampingan pascarehab justru menjadi titik paling krusial dalam pemulihan mereka.
“Banyak yang sudah bersih, tapi bingung ke mana setelahnya. Di sinilah seharusnya Disnaker, DPRD, dan dunia usaha hadir. Buka ruang pelatihan, buka akses kerja, agar mereka tak kembali ke lingkaran lama,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa rehabilitasi yang ideal adalah yang mampu mengarahkan penyintas untuk menemukan kembali minat, bakat, dan masa depannya.
“Jika kita ingin generasi ini pulih, kita harus pulih bersama. Tidak bisa satu pihak saja,” katanya mengakhiri. (A6/Red)
