MALANG – Transformasi digital menjadi salah satu tantangan sekaligus peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah untuk terus berkembang di tengah perubahan perilaku konsumen. Namun masih banyak UMKM yang menghadapi berbagai kendala dalam memanfaatkan teknologi, mulai dari belum memiliki legalitas usaha, belum menerapkan sistem pembayaran digital, hingga belum memanfaatkan platform digital sebagai media promosi. Berangkat dari kondisi tersebut Kelompok 21 MMD Universitas Brawijaya Tahun 2026 menghadirkan program kerja Digitalisasi UMKM di Kelurahan Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.

Program dilaksanakan pada 10 Juli 2026 yang bertujuan membantu pelaku usaha beradaptasi dengan perkembangan teknologi melalui berbagai pendampingan yang aplikatif dan berkelanjutan. Program mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) khususnya Tujuan 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi serta Tujuan 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Sebelum merancang program ini mahasiswa melakukan observasi dan berdiskusi secara langsung dengan para pelaku UMKM di Kelurahan Candirenggo. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku usaha masih menjalankan usahanya secara konvensional. Beberapa di antaranya belum memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB), belum menyediakan metode pembayaran digital, belum melakukan pencatatan keuangan secara rutin, serta belum memiliki media digital untuk mempromosikan produk. “Kami melihat bahwa banyak UMKM di Candirenggo memiliki usaha yang berkualitas, tetapi belum sepenuhnya memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung pengembangan usahanya.” ujar Raisya Davinia Wibowo.
Program Digitalisasi UMKM diwujudkan melalui empat subprogram yang saling melengkapi. Subprogram pertama adalah pendampingan pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB) yang dikoordinasikan oleh Raisya Davinia Wibowo dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Mahasiswa memberikan edukasi mengenai pentingnya legalitas usaha sekaligus mendampingi proses pendaftaran NIB hingga selesai. Dengan memiliki legalitas usaha pelaku UMKM diharapkan dapat memperoleh akses yang lebih luas terhadap berbagai program pembinaan, kemudahan perizinan, hingga peluang pengembangan usaha di masa mendatang.
Subprogram berikutnya adalah QRISmart UMKM yang dikoordinasikan oleh Novrida Pasaribu dari Fakultas Ilmu Administrasi. Pelaku UMKM diberikan edukasi mengenai manfaat penggunaan QRIS sebagai metode pembayaran digital sekaligus didampingi dalam proses pendaftarannya. Kehadiran QRIS diharapkan mampu memberikan kemudahan bagi pelanggan dalam bertransaksi sekaligus mendorong pelaku usaha agar lebih adaptif terhadap perkembangan sistem pembayaran non-tunai yang semakin banyak digunakan masyarakat.
Lalu adanya subprogram pada aspek pengelolaan usaha yang dikoordinasikan oleh Nimas Ayu Rodhiyah dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Adanya pelaksanaan pendampingan pencatatan laporan keuangan digital menggunakan aplikasi BukuWarung bertujuan meningkatkan literasi keuangan pelaku UMKM melalui pembiasaan mencatat setiap transaksi secara rutin serta memisahkan keuangan pribadi dan keuangan usaha. Pencatatan yang lebih tertib menghasilkan pelaku usaha dapat memantau kondisi usahanya secara lebih akurat dan mengambil keputusan bisnis berdasarkan data yang dimiliki.
Subprogram yang terakhir dari kelompok 21 juga membantu pelaku UMKM membangun identitas digital melalui Pendampingan dikoordinasikan oleh Anggita Putri Savelya Nadeak dari Fakultas Ilmu Komputer yang meliputi penyusunan profil usaha, pembuatan katalog produk, hingga pengenalan strategi promosi melalui media digital. Kehadiran website dan media sosial diharapkan mampu memperluas jangkauan pemasaran sehingga produk-produk lokal Candirenggo dapat dikenal oleh masyarakat yang lebih luas.

“Melalui pendampingan ini kami berharap para pelaku UMKM memiliki bekal untuk terus berkembang, mulai dari legalitas usaha, sistem pembayaran, pengelolaan keuangan, hingga strategi pemasaran digital,” jelas Novrida. Melalui program Digitalisasi UMKM ini Kelompok 21 MMD Universitas Brawijaya berharap dapat menghadirkan dampak yang berkelanjutan bagi perkembangan UMKM di Kelurahan Candirenggo. Lebih dari sekadar memperkenalkan teknologi, program ini menjadi wujud kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat dalam membangun ekosistem usaha yang lebih adaptif, inovatif, dan berdaya saing. Harapannya berbagai pendampingan yang telah diberikan dapat menjadi langkah awal bagi pelaku UMKM untuk terus berkembang, memperluas pasar, serta meningkatkan kesejahteraan melalui pemanfaatan teknologi digital secara optimal.
